Cari

IPO Oscar Living (OLIV), Menguji Kokoh Emiten Furnitur


https://market.bisnis.com/read/20220405/189/1519563/ipo-oscar-living-oliv-menguji-kokoh-emiten-furnitur


Oscar Living akan menawarkan saham IPO dalam rentang harga Rp100 - Rp125 per lembar, bagaimana mereka menyiapkan strategi untuk tetap menarik minat investor?


Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan pengelola toko furnitur online PT Oscar Mitra Sukses Sejahtera Tbk. (OLIV) telah membuka fase book building Selasa (5/4/2022), menjelang IPO yang direncanakan Mei 2022 nanti. Target dana yang diincar OLIV relatif tidak sebesar yang sudah tercatat pada emiten sepanjang tahun ini, tapi bukan berarti magnet IPO perusahaan furnitur ini dapat dipandang sebelah mata.


Berdasarkan dokumen prospektus, OLIV akan menawarkan 400 juta saham baru dengan harga Rp100 hingga Rp125 per lembar. Artinya target dana yang diincar calon emiten ini maksimal Rp50 miliar.


Sekitar 88,22 persen dari dana tersebut atau maksimal Rp44,11 miliar akan digunakan untuk modal kerja berupa persediaan, pendirian fasilitas gudang, penggajian karyawan, hingga pemasaran.


Sedangkan sisanya yakni 11,78 persen atau maksimal Rp5,89 miliar akan dipkai untuk renovasi gedung dan penambahan armada.


Sebagai gambaran, OLIV membukukan laba Rp525,08 juta sepanjang 10 bulan awal 2021. Artinya, laba disetahunkan perseroan berada di level Rp630,097 juta.


Jumlah saham perseroan setelah IPO adalah 1,9 miliar lembar. Jika dibagi dengan laba per saham disetahunkan, maka cuan dari OLIV sekitar Rp0,336 per lembar.


Dengan asumsi harga saham IPO perseroan adalah Rp100 hingga Rp125 per lembar, maka rasio PER disetahunkan OLIV ketika resmi melantai di bursa pada kisaran 297,61x hingga 372,02x.


Sebagai pembanding, saat ini bursa telah memiliki setidaknya tujuh emiten yang spesifik bergerak pada bidang bisnis furnitur.


Dari jumlah tersebut, hanya ada dua emiten yang cenderung memiliki valuasi PER setara lebih mahal dari proyeksi OLIV, yakni PT Boston Furnitures Industries Tbk. (SOFA) dengan 294,70x dan PT Chitose Internasional Tbk. (CINT) dengan 250x. Namun, OLIV memberi pemanis untuk menarik minat investor pasar modal.


Dalam IPO kali ini, perusahaan menjanjikan bonus berupa waran seri 1 bagi para investor yang berkomitmen ikut memesan saham IPO.


Prospektus teranyar menyebutkan bahwa waran ini nantinya akan memberi hak pada pemegang saham untuk membeli saham biasa (exercise) dengan harga Rp10 per lembar.


Perseroan juga telah memastikan bahwa jumlah waran yang dibagikan gratis akan mencapai maksimal 400 juta lembar, atau setara rasio 1:1 dibandingkan jumlah saham IPO.


Pendeknya, perseroan memberikan kesempatan bagi para pelaku IPO untuk menggandakan kepemilikannya di masa mendatang dengan harga exercise yang hanya setara 10 persen dari potensi harga minimal IPO (Rp100). Sebagai konteks, OLIV bukan satu-satunya.


Belakangan sejumlah emiten pendatang baru di bursa yang menawarkan saham bervaluasi tinggi juga berusaha memikat investor dengan strategi alternatif serupa. Beberapa di antaranya pun mampu menyita perhatian pelaku pasar.


Langkah yang menarik terakhir terjadi dalam IPO PT Wir Asia Tbk. (WIRG). Perusahaan metaverse yang terkoneksi dengan sejumlah konglomerat Grup Lippo dan Indika ini menawarkan waran dengan rasio 3:1 ketika menggelar IPO pada Senin (5/4) kemarin.


Hasilnya, waran WIRG menjadi barang buruan yang laris manis diperjualbelikan investor. Bahkan ketika tanggal exercise waran tersebut belum dimulai. Terhitung hingga jeda sesi perdagangan Selasa (5/4) misalnya, waran WIRG (WIRG-W) diperjualbelikan investor dengan mahar Rp280 per unit.


Harga ini telah mencerminkan kenaikan 27.900 persen, dan cuma berselisih tipis dengan harga saham biasa perseroan yang berkisar Rp282 per lembar.


Manajemen OLIV sendiri meyakini bahwa waran yang mereka tawarkan akan menjadi opsi menjanjikan sebagai peluang investasi pelaku pasar. Apalagi, mereka meyakini bahwa sektor penjualan furnitur secara daring masih akan terus membukukan pertumbuhan dari tahun ke tahun.


“Sebagai perusahaan yang menargetkan segmen low to mid atau bawah ke menengah, perseroan memiliki pangsa pasar yang sangat besar,” papar manajemen OLIV.


Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan waran itu seperti bonus bagi investor. Meski demikian dia mewanti-wanti bahwa dalam waran spekulasi seringkali lebih dominan dalam psikologi pasar.


"Karena pergerakan harga [waran] yang tanpa batas auto rejection, membuat lebih banyak aksi spekulasi, namun reward bisa lebih besar di saat risiko juga membesar," katanya kepada Bisnis.


William mengatakan investor harus menempatkan waran sebagai alat investasi jangka pendek alias trading daripada disimpan terlalu lama.


"Salah satu waran yang cukup memakan korban adalah HELI-W yang pernah mencapai harga 1500 dan berakhir di level 9," katanya mengingatkan.


Prospek IPO Emiten Furnitur Sejauh ini, OLIV memang cenderung lebih banyak berfokus memasarkan produknya di kawasan Jabodetabek.


Ini lantaran mayoritas gudang produk mereka masih tersebar di kawasan ibu kota dan daerah penyangga. Namun, seiring adanya dana segar hasil IPO, manajemen meyakini bahwa jangkauan penjualan mereka akan semakin luas.


Pembukaan gudang baru juga memungkinkan OLIV untuk menawarkan promo gratis ongkos kirim (ongkir) ke lebih banyak wilayah di luar Jabodetabek.


Pandangan manajemen tersebut juga telah diamini Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI).


Selain karena kebutuhan dan jumlah kelas menengah yang besar, adanya usaha pemerintah untuk terus memacu sektor ini juga dinilai bakal menguntungkan perusahaan-perusahaan penjual furnitur dalam negeri.


“Kami memperkirakan permintaan dalam negeri juga meningkat tahun ini.,” ujar Ketua Presidium HIMKI Abdul Sobur kepada Bisnis, belum lama ini. Hanya saja, bukan berarti tidak akan ada tantangan.


Penyediaan bahan baku seperti kayu dan rotan, hingga kebutuhan modal dan tenaga kerja yang naik juga akan menjadi hambatan yang mesti diselesaikan para pelaku industri furnitur.


Sebagai gambaran, industri furnitur di Indonesia masih membukukan performa positif pada 2021. Namun, pasar ekspor masih menjadi pendorong utama gerak sektor ini.


Mengamini pandangan HUKMI, Direktur Hasil Hutan dan Perkebunan Kemenperin Emil Satria juga mengatakan bahwa pasar dalam negeri merupakan salah satu segmen yang ingin dipacu pemerintah.


Karenanya, perusahaan penjual dan distributor akan memegang peran tidak kalah krusial. “Permintaan pasar domestik cukup menjanjikan, dengan middle income class yang lebih dari 50 juta,” kata Emil.




16 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua